Senin, 26 Januari 2009

Lanjutan pembahasan tentang Prinsip Pengembangan Kurikulum

Posted at 22.10 by thegudangupil
( Lanjutan tentang Prinsip Pengembangan Kurikulum)
Sumber-Sumber Prinsip Pengembangan Kurikulum
1. Data Empiris (Empirical data)
2. Data Eksperimen (Experiment data)
3. Cerita/Legenda yang hidup di masyarakat (Folklore of Curriculum)
4. Akal sehat ( Common sense)

(Oliva, 1992: 28)
Tipe-Tipe Prinsip Pengembangan Kurikulum
• Anggapan Kebenaran Utuh atau Menyeluruh (Whole Truth) adalah fakta, konsep, dan prinsip yang diperoleh dan telah diuji dalam penelitian yang ketat dan berulang sehingga bisa dibuat generalisasi dan bisa berlaku di tempat yang berbeda.
• Anggapan Kebenaran Parsial (Partial Truth) yaitu suatu fakta, konsep, dan prinsip yang sudah terbukti efektif dalam banyak kasus tapi sifatnya masih belum bisa digeneralisasi.
• Angapan Kebenaran yang Masih Memerlukan Pembuktian (Hypothesis) yaitu asumsi kerja atau prinsip yang sifatnya tentatif. Prinsip ini muncul dari hasil deliberasi yaitu judgement dan pemikiran akal sehat.

Prinsip-prinsip Pengembangan kurikulum
Untuk Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum telah dibahas dalam postingan sebelumnya. Jadi dalam bahasan kali ini tidak akan secara detail dibahas tentang prinsip umum dan prinsip khusus kurikulum.
PRINSIP UMUM :
Prinsip yang harus diperhatikan untuk dimiliki oleh kurikulum sebagai totalitas dari gabungan komponen-komponen yang
PRINSIP KHUSUS :
Mengembangkan komponen tujuan, prinsip untuk mengembangkan komponen isi kurikulum, dan prinsip-prinsip untuk mengembangkan komponen-komponen kurikulum lainnya

Oliva : Prinsip (axioms)
• Perubahan kurikulum adalah sesuatu keharusan
• Kurikulum merupakan produk dari masa yang bersangkutan.
• Perubahan kurikulum masa lalu sering terdapat secara bersamaan bahkan tumpang tindih dengan perubahan kurikulum yang terjadi masa kini.
• Perubahan kurikulum akan terjadi dan berhasil jika ada perubahan pada orang-orang atau masyarakat.
• Pengembangan kurikulum adalah kegiatan kerjasama kelompok.
• Pengembangan kurikulum pada dasarnya adalah proses menentukan pilihan dari alternatif yang ada.
• Pengembangan kurikulum adalah kegiatan yang tidak akan pernah berakhir.
• Pengembangan kurikulum akan berhasil jika dilakukan secara komprehensif, bukan aktivitas bagian per bagian yang terpisah.
• Pengembangan kurikulum akan lebih efektif jika dilakukan dengan mengikuti suatu proses yang sistematis.
• Pengembangan kurikulum dilakukan berangkat dari kurikulum yang ada



*Catatan kuliah d

Rabu, 07 Januari 2009

Deskripsi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Posted at 05.58 by thegudangupil
Pengertian RPP
• Perkiraan atau proyeksi mengenai tindakan apa yang akan dilakukan pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran
• Rencana yang mengambarkan prosedur dan pengoraginasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan telah dijabarkan dlam silabus
• Pembelajaran adalah proses yang ditata dan diatur menurut langkah-langkah tertentu agar dalam pelaksanaannya dapat mencapai hasil yang diharapkan
• RPP disusun untuk satu Kompetensi Dasar.

Prinsip-Prinsip Pengembangan RPP
• Memperhatikan perbedaan individu peserta didik
• Mendorong partisipasi aktif peserta didik
• Mengembangkan buadaya membaca dan menulis proses pembelajaran
• Memberikan umpan balik dan tindak lanjut
• Keterkaitan dan keterpaduan
• Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi

Tujuan Dan Manfaat
• Memberikan landasan pokok bagi guru dan siswa dalam mencapai kompetensi dasar dan indikator
• Memberi gambaran mengenai acuan kerja jangka pendek
• Karena disusun dengan menggunakan pendekatan sistem, memberi pengaruh terhadap pengembangan individu siswa
• Karena dirancang secara matang sebelum pembelajaran, berakibat terhadap nurturant effect

Prinsip Penyusunan
• Spesifik
• Operasional
• Sistematis
• Jangka pendek (1-3 kali pertemuan)

Langkah-langkah Penyusunan RPP
• Mengisi kolom identitas
• Menentukan alokasi wajtu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan
• Menetukan SK,KD dan Indikator yang akan digunakan ( terdapat pada silabus yang telah disusun)
• Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK,KD, dan Indikator yang telah ditentukan.
• Mengidentifikasi materi ajar berdasrkan materi pokok atau pembelajaran yang terdapat dalam silabus.
• Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan
• Menentukan langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir
• Mene\ntukan alat/bahan/sumber belajar
• Menyusun criteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran, dll

Prosedur Penyusunan




COntoh RPP


Klik 2x pada setiap gambra untuk memperbesarnya.

SK – KD – Indikator
• Tuliskan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang hendak dicapai. Tuliskan juga nomor kompetensi dasarnya (jika ada)
Materi Pembelajaran
• Tuliskan materi pembelajaran (beserta uraian singkat) yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator

Kegiatan Pembelajaran
• Tuliskan kegiatan pembelajaran berupa kegiatan pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar, mencakup kegiatan tatap muka dan non tatap muka

Alat, Media, Sumber Rujukan
• Tuliskan berbagai alat dan media atau sumber belajar lain yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran yang sesuai untuk pencapaian kompetensi dasar
• Tuliskan sumber bahan/rujukan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai. Gunakan cara penulisan yang sudah baku, tuliskan juga bagian/bab dan halamannya

Penilaian Pembelajaran
• Tuliskan prosedur, jenis, bentuk, dan alat/instrumen yang digunakan untuk menilai pencapaian kompetensi dasar oleh siswa, serta tindak lanjut hasil penilaian, seperti: remedial, pengayaan, atau percepatan.
• Sesuaikan dengan teknik penilaian berbasis kelas, seperti: penilaian portofolio, hasil karya (product), penugasan (project), kinerja (performance), dan tes tertulis (paper & pen test).

Rumusan Kegiatan Pembelajaran
• Siswa dibagi ke dalam tiga kelompok kecil (4-5 orang) mendiskusikan tentang penyebab terjadinya kecelakaan kereta api
• Siswa memperhatikan uraian guru tentang terjadinya peristiwa terjadinya kecelakaan kereta api
• Setiap mahasiswa mengamati proses lokomotif berjalan melalui penayangan slow motion media video
• Dengan bantuan peta Indonesia, siswa menunjukkan dan menandai daerah-daerah rawan kecelakaan kereta api. Dsb.


Contoh Menentukan Materi Pembelajaran



Contoh rumusan Kegiatan Pembelajaran

Klik 2x pada setiap gambar untuk memperbesarnya.


SUmber Data
Dalam persentasi Dra. Masitoh, M.Pd
serta Sumber yang mendukung untuk melengkapi postingan ini

Deskripsi Rancangan Silabus atau Deskripsi Silabus

Posted at 05.35 by thegudangupil
Jenis Rancangan Instruksional/Pembelajaran
• Sylabus (Silabus)
• Basic Course Outline (GBPP)
• Lesson Unit ( Satuan Pelajaran, SAP, RPP)
• Programmed Instruction
• Computer Assisted Instruction
• Modular Instruction
• Learning Package
• E-Learning

Pengertian Silabus
• Garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi/materi pembelajaran (salim, 1987:98
• Merupakan seperangkat rencana serta pengaturan pelaksanaan pembelajara dan penilaian yang disusun secara sitematis memuat komponen-komponen yang saling berkaitan untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar (Yulaelawati,2004:123)
• Salah satu rancangan kurikulum pembelajaran.
• Merupakan ringkasan isi komponen-komponen kurikulum
• Penjabaran lebih lanjut dari standar kompetensi, kompetensi dasar, dan pokok-pokok/uraian materi yang harus dipelajari siswa ke dalam rincian kegiatan dan strategi pembelajaran, kegiatan dan strategi penilaian, dan alokasi waktu per mata pelajaran per satuan pendidikan dan per kelas
• Salah satu tahapan pengembangan kurikulum, khususnya untuk menjawab “apa yang harus dipelajari?”
• Merupakan hasil atau produk pengembangan disain pembelajaran, seperti PDKBM, GBPP, dsb.

Isi Silabus
Berkenaan dengan komponen silabus lebih rinci dikemukan oleh nurhadi ( 2004:142) bahwa silabus berisi uraian program yang mencantumkan:
• Bidang studi yang diajarkan
• Tingkat sekolah dan semester
• Pengelompokan kompetensi dasar
• Materi pokok
• Indicator
• Strategi pembelajaran
• Alokasi waktu
• Bahan atau alat serta media

Manfaat Silabus
• Pedoman bagi pengembangan pembelajaran lebih lanjut:
o Pembuatan rencana satuan pembelajaran
o Pengelolaan kegiatan pembelajaran
o Penyediaan sumber belajar
o Pengembangan sistem penilaian

Prinsip pengembangan silabus
• Ilmiah
o Materi pembelajaran yang diberikan dalam silabus harus memenuhi kebenaran secara ilmiah.
• Memperhatikan perkembangan dan kebutuhan siswa
o Cakupan,kedalaman, tingkat kesukaran, dan urutan penyajian materi dalam silabus disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisik dan psikologis siswa.
• Sistematis
o Silabus dianggap sebagai suatu system sesuai konsep dan prinsip system, penyusunan silabus dilakukan secara sistematis, sejalan dengan pendekatan system atau langkah-langkah pemecahan masalah.
• Relevansi,Konsitensi, dan Kecakupan
o Dalam penyusunan silabus diharapkan adanya kesesuaian\, keterkaitan, konsitensi dan kecakupan antara standar kompetensi, kompetnsi dasa, materi pokok, pengalaman belajar,system penilaian dan sumber bahan(DepDIknas, 2004:11)

Prosedur Pengembangan
• Persiapan - Needs/diagnostic analysis
• Penyusunan silabus - Design
• Perbaikan - Validation
• Pemantapan - pengesahan
• Pelaksanaan - Implementation
• Penilaian – Monev

Prosedur Pengembangan




Silahkan Klik 2x Pada Setiap Gambar Untuk memperbesar.

Tahapan Penyusunan
• Identifikasi Kompetensi Dasar
• Silabus
• Program Semester
• Satuan Pembelajaran
• Skenario Pembelajaran

Komponen Silabus
• Identitas mata pelajaran
o Nama Mata Pelajaran
 Semester
 Deskripsi singkat MP
 Kedudukan MP
 Karakteristik MP
 Cakupan materi pokok

• Standar kompetensi
o Merupakan seperangkat kompetensi yang dibakukan dan harus dicapai siswa sebagai hasil belajarnya dalam setiap satuan pendidikan (SKL)
o Digunakan untuk memandu penjabaran kompetensi dasar menjadi pengalaman belajar
o Urutan (sekuens) standar kompetensi menggunakan pendekatan prosedural dan hierakhis
o Pendekatan prosedural digunakan apabila standar kompetensi yang diajarkan berupa serangkaian langkah-langkah secara urut dalam mengerjakan suatu tugas pembelajaran.
o Pendekatan hierarkis menunjukkan hubungan yan bersifat subordinate/berjenjang antara beberapa standar kompetensi yang ingin dicapai. Dengan demikian ada yang mendahului dan ada yang kemudian. Standar kompetensi yang mendahului merupakan prasyarat bagi standar kompetensi yang berikutnya.

Kompetensi dasar
o Rincian dari standar kompetensi, berisi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang secara minimal harus dikuasai siswa
o Urutannya (sekuens) menggunakan pendekatan: prosedural, hierarkis, mudah-sukar, konkrit-abstrak, spiral, tematik/ terpadu, dsb.
• Indikator
o Merupakan kompetensi dasar yang lebih spesifik
o Dikembangkan oleh guru sesuai dengan kebutuhan dan potensi siswa
o Menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur dan cakupan materinya terbatas, contoh: menghitung, menafsirkan, membandingkan, membedakan, menyimpulkan, dsb.
o Digunakan lebih lanjut dalam pengembangan instrumen tes
Contoh Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar




Silahkan Klik 2x Pada Gambar Untuk memperbesarnya.

• Materi pokok
o Pokok-pokok materi pembelajaran yang harus dipelajari siswa untuk mencapai kompetensi dasar
o Jika ditetapkan secara nasional, tugas pengembang silabus menjabarkannya menjadi uraian materi pembelajaran
o Jenis materi: fakta, konsep, prinsip, prosedur.
o Dirumuskan dalam bentuk kata benda atau kata kerja yang dibendakan
o Buku teks hanya merupakan salah satu bahan rujukan penetapan materi pokok

Contoh Materi Pokok


Klik 2x pada gambar untuk memperbesar.

Reigeluth, (1987:98) mengklasifikasi materi pembelajarna menajdi 4 jenis,yaitu:
o Fakta adalah asosiasi anatara objek, peristiwa, atau symbol yang ada atau mungkin ada dalam lingkungan nyata.
o Konsep adalah sekelompok objek atau peristiwa atau symbol yang memiliki karakteristik umu
o Prinsip adalah hubungan sebab akibat antara konsep.
o Prosedur adalah urutan langkah untuk mencapai suatu tujuan

o Pengalaman belajar
Pengalaman dan kegiatan siswa menunjukan aktivitas belajr dalam mencapai penguasaan standar kompetensi,kompetensi dasar, dan materi pembelajaran.
Pengalamn belajar adalah kegiatan fisik maupun mental yang perlu dilakukan oleh siswa dalam menacapi kompetensi dasar dan materi pembelajaran.
Pengalam belajar ranah KOgnitif, Psikomotorik dan Afektif
o Kompetensi ranah kognitif meliputi menhafal, memahami, mengaplikasikan, menganalisa,, mensitesiskan, dan menilai
o Kompetensi ranah psikomotorik meliputi tingkatan gerkan awal, semi rumit, gerakan rutin.
o Kompetensi Afektif meliputi tingkatan pemberian respon, apresiasi, penilaian, dan internalisasi.

• Strategi pembelajaran

Merupakan bentuk/pola umum kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan, terdiri atas :
o Kegiatan tatap muka, berupa kegiatan pembelajaran dalam bentuk interaksi langsung antara guru dengan siswa (ceramah, tanya jawab, diskusi, presentasi seminar, kuis, tes).
o Kegiatan non tatap muka, berupa:
 Kegiatan pembelajaran yang bukan interaksi guru-siswa (mendemonstrasikan, mempraktikkan, mengukur, mensimulasikan, mengadakan eksperimen, mengaplikasikan, menganalisis, menemukan, mengamati, meneliti, menelaah).
 Kegiatan pembelajaran kontekstual
 Kegiatan pembelajaran kecakapan hidup

• Alokasi waktu
o Perkiraan berapa lama siswa mempelajari materi yang telah ditentukan dengan memperhatikan tingkat kesulitan materi, luas materi, lingkup/cakupan materi, tingkat pentingnya materi
o Perlu memperhatikan alokasi waktu per semester dalam kalender pendidikan
o Perlu dipertimbangkan juga waktu untuk remedial, pengayaan, tes/ulangan, dan cadangan
o Jika alokasi waktu ditetapkan secara nasional, maka pengembang silabus tinggal mendistribusikannya dalam program semester

• Sumber bahan/acuan/rujukan
o Rujukan, referensi atau literatur yang bisa digunakan
o Bukan hanya buku teks, tetapi juga: jurnal, hasil riset, internet, dsb.
o Mengikuti cara penulisan yang standar (nama pengarang, tahun terbit, judul buku, kota, nama penerbit)

COntoh Format Silabus


klik 2x pada gambar untuk memperbesarnya.

SUmber Data
Dalam persentasi Dra. Masitoh, M.Pd
serta Sumber yang mendukung untuk melengkapi postingan ini

Senin, 17 November 2008

Evaluasi Kurikulum

Posted at 04.33 by thegudangupil
Pengertian
 Menurut Drs. Asep Herry Hernawan, M.Pd
o Evaluasi
 Proses penentuan nilai sesuatu berdasarkan kriteria tertentu
o Evaluasi Kurikulum
 Evaluasi program pendidikan bagi peserta didik dalam lingkup luas atau terbatas, dilakukan terhadap kurikulum potensial maupun kurikulum aktual
 Evaluation is the process for determining the degree to which these changes in behavior are actually taking place (Tyler)
 Evaluation as a process for describing an evaluand and judging its merit and worth (Lincoln and Guba)
 Evaluation is the effort to understand the functioning and effect of a program (Meyers)
 Evaluation is an observed value compared to some standard (Stake)

Hubungan antara evaluasi, pengukuran, dan tes
Menurut HANSISWANY KAMARGA

klik 2x pada gambar untuk memperbesar
 Tes adalah suatu alat pengumpulan data yang dirancang secara khusus:
o pola jawaban yang dirancang harus memenuhi perangkat kriteria ayng ketat;
o aspek yang di tes khusus dan terbatas;
o hasilnya dinyatakan dalam bentuk angka
 Pengukuran adalah suatu set aturan mengenai pemberian angka terhadap hasil suatu kegiatan pengukuran :
o Biasanya dilakukan melalui tes
o Didasarkan pada teori pengukuran psikometrik
 Evaluasi adalah proses pemberian pertimbangan mengenai nilai dan arti dari sesuatu yang dipertimbangkan

CAKUPAN PROSES EVALUASI
Menurut Drs. Asep Herry Hernawan, M.Pd
 Judgement (Menetapkan suatu nilai)
o Subjektif
o Objektif (berdasar kriteria yang disepakati)
 Kriteria
o Internal (program)
o Eksternal (luar program)
 Objek Penilaian
o Luas (Program Pendidikan)
o Terbatas (Program belajar-mengajar)

KATEGORI EVALUASI KURIKULUM
 PENILAIAN KONTEKS
o Dasar dalam menentukan tujuan program
o Fisibilitas dengan kondisi dan situasi di mana program itu akan dilaksanakan
 PENILAIAN INPUT (MASUKAN)
o Memperoleh informasi dan menyajikan keterangan sebagai dasar pemanfaatan sumber daya untuk pencapaian tujuan
 PENILAIAN PROSES
o Mengetahui kekuatan/kelemahan rencana dan pelaksanaan
o Memperoleh informasi untuk perbaikan, penyempurnaan, pengembangan program
 PENILAIAN OUTPUT (KELUARAN-HASIL)
o Menentukan keberhasilan program dan dampaknya

Adapun menurut HANSISWANY KAMARGA evaluasi kurikulum
Proses pemberian pertimbangan (judgement) mengenai nilai dan arti dari kurikulum yang dipertimbangkan

klik 2x pada gambar untuk memperbesar
Pekerjaan evaluator bukan pekerjaan bebas seperti melakukan penelitian. Evaluasi harus berhubungan dengan kegunaan praktis; kalau tidak bisa menunjukkan kegunaan praktis maka dianggap kegagalan evaluasi

3 Konsep penting dalam evaluasi menurut HANSISWANY KAMARGA
 Proses
Evaluasi adalah suatu proses bukan suatu hasil / produk. Hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi adalah nilai dan arti evaluan; sedangkan kegiatan untuk sampai kepada pemberian nilai dan arti itu yang dinamakan evaluasi
 Pemberian nilai
Dilakukan apabila seorang evaluator memberikan pertimbangannya mengenai evaluan tanpa menghubungkannya dengan sesuatu yang bersifat dari luar (internal pada diri evaluan)
 Pemberian arti
Berhubungan dengan posisi & peranan evaluan tersebut dalam suatu konteks tertentu

TUJUAN EVALUASI KURIKULUM
Drs. Asep Herry Hernawan, M.Pd
 Pengambilan Keputusan
 Penyempurnaan Kurikulum
(pelaksanaan, pembinaan, dan pengembangan)
o JANGKA PENDEK
meningkatkan efektivitas kurikulum (derajat pencapaian tujuan)
meningkatkan pengelolaan kegiatan kurikuler (pemanfaatan tenaga, waktu, tempat, fasilitas, sarana, biaya)
o JANGKA PANJANG
Melihat hasil yang dicapai kurikulum dan dampaknya terhadap performance lulusan
Dasar bagi pembinaan mekanisme balikan, perbaikan, dan penyempurnaan pelaksanaan kurikulum
Serta dalam persentasi Dian Andayanai, S.Pd tujuan evaluasi kurikulum adalah

klik 2x pada gambar untuk memperbesar
MODEL EVALUASI KURIKULUM
 Measurement
o Menempatkan kedudukan setiap siswa dalam kelompoknya melalui pengembangan norma kelompok dalam evaluasi hasil belajar
o Membandingkan hasil belajar antara dua atau lebih kelompok yang menggunakan program/ metode pengajaran yang berbeda-beda melalui analisis secara kuantitatif
o Teknik evaluasi yang digunakan terutama tes yang disusun dalam bentuk obyektif, yang terus dikembangkan untuk menghasilkan alat evaluasi yang reliable dan valid
 Congruence
o Menggunakan Prosedur pre-and-post-assessment dengan menempuh langkah-langkah pokok sebagai berikut: penegasan tujuan, pengembangan alat evaluasi, dan penggunaan hasil evaluasi
o Analisis hasil evaluai dilakukan secara bagian demi bagian
o Teknik evaluasi mencakup tes dan teknik-teknik evaluasi lainnya yang cocok untuk menilai berbagai jenis perilaku yang terkandung dalam tujuan
o Kurang menyetujui diadakannya evaluasi perbandingan antara dua atau lebih program
 Illumination
o Menggunakan prosedur yang disebut progressive focusing dengan langkah-langkah pokok: orientasi, pengamatan yang lebih terarah, analisis sebab akibat
o Bersifat kualitatif terbuka dan fleksibel eklektif
o Teknik evaluasi mencakup observasi, wawancara, angket, analisis dokumen dan bila perlu mencakup pula tes
 Educational System Evaluation
o Membandingkan performance setiap dimensi program dengan kriteria internal
o Membandingkan performance program dengan menggunakan kriteria eksternal yaitu performance program yang lain
o Teknik evaluasi mencakup tes, observasi, wawancara, enmgket dan analisis dokumen
Sedangkan menurut HANSISWANY KAMARGA tujuan kurikulum adalah:
 Menentukan efektivitas suatu kurikulum/program pembelajaran
 Menentukan keunggulan dan kelemahan kurikulum/program pembelajaran
 Menentukan tingkat keberhasilan pencapaian hasil belajar peserta didik
 Menentukan masukan untuk memperbaiki program
 Mendeskripsikan kondisi pelaksanaan kurikulum
 Menetapkan keterkaitan antarkomponen kurikulum

Fungsi Evaluasi
 Menurut Tyler :
Untuk memperbaiki kurikulum (melalui hasil belajar  evaluasi produk)
 Menurut Cronbach :
Untuk memperbaiki kurikulum dan memberi penghargaan
 Menurut Scriven :
Untuk mengurangi kekurangan-kekurangan yang ada.
 Scriven membedakan evaluasi kurikulum dalam 2 fungsi yakni Fungsi Formatif dan Fungsi Sumatif
o Fungsi Formatif : dilaksanakan apabila kegiatan evaluasi diarahkan untuk memperbaiki bagian tertentu dari kurikulum yang sedang dikembangkan
o Fungsi Sumatif : dilaksanakan apabila kurikulum telah dianggap selesai pengembangannya (evaluasi terhadap hasil kurikulum)
Langkah Umum Evaluasi Menurut HANSISWANY KAMARGA

klik 2x pada gambar untuk memperbesar
DIMENSI EVALUASI KURIKULUM
Menurut Drs. Asep Herry Hernawan, M.Pd
Dimensi Program (Kurikulum Ideal)

 TUJUAN (institusional, kurikuler, instruksional)
Lingkup abilitas/kompetensi,
Kedalaman/keluasan tujuan
Kesinambungan antar tujuan
Relevansi antar tujuan
Rumusan kalimat

 ISI KURIKULUM (Struktur, Komposisi, Jumlah mata ajaran, alokasi waktu)
Kesesuaian dengan tujuan
Scope dan sequence
Sifat isi
Esensi
Kesinambungan
Organisasi
Keseimbangan
Kegunaan

 PEDOMAN PELAKSANAAN
Proses belajar-mengajar
Sistem penilaian
Administrasi dan supervisi
Sumber belajar

Dimensi Pelaksanaan (Kurikulum Aktual)
Masukan
 Masukan Mentah (peserta didik)
Jumlah
Minat dan motivasi
Kecakapan sebelumnya
Bakat/potensi
Latar belakang
 Masukan Alat
Bahan pelajaran/pelatihan
Alat-alat pembelajaran
Media dan sumber belajar
Pengajar/pelatih (jumlah dan kualitasnya)
Sistem administrasi
Prasarana pendidikan
 Masukan Lingkungan
Lingkungan sosial
Lingkungan budaya
Lingkungan geografis
Lingkungan religius
Proses
Interaksi unsur-unsur masukan untuk mencapai tujuan
Keluaran
Hasil langsung berupa perubahan tingkah laku (kompetensi) setelah mengalami proses
Dampak
Kompetensi peserta didik di masyarakat/tempat bekerja

PRINSIP EVALUASI KURIKULUM
Menurut Drs. Asep Herry Hernawan, M.Pd


klik 2x pada gambar untuk memperbesar
BENTUK EVALUASI KURIKULUM

Dalam persentasi Drs. Asep Herry Hernawan, M.Pd
PENILAIAN FORMATIF (MONITORING)
 Dilaksanakan pada saat berlangsungnya suatu program
 Tujuan utamanya memperbaiki kelemahan sesegera mungkin, build in dalam pelaksanaan program
 Dilaksanakan secara kontinu agar objektif dan komprehensif
 Hasilnya segera disusun dan digunakan dalam program selanjutnya
 Alat penilaian : observasi, wawancara, tes
 Penilai : pengajar/pelatih, kepala diklat, supervisor, tim penilai khusus
 Segi yang dinilai : pelaksanaan pengajaran, penilaian, bimbingan, administrasi, penggunaan sumber belajar, sarana pendidikan, dll.

PENILAIAN SUMATIF
 Dilaksanakan setelah selesainya suatu program
 Tujuan utamanya menilai keberhasilan suatu program dilihat dari tujuan yang telah ditentukan sebelumnya
 Aspek yang dinilai terutama produk atau hasil dari program

PROSEDUR EVALUASI KURIKULUM
TAHAP PERSIAPAN
 Menyusun TOR (term of reference)
 Target dan sasaran penilaian
 Lingkup dan objek yang dinilai
 Alat dan instrumen yang digunakan
 Prosedur dan cara penilaian
 Organisasi pelaksana
 Biaya
 Dsb.
 Klarifikasi (penjabaran dari TOR)
 Mengadakan penelaahan perangkat evaluasi (tujuan, isi, strategi, sumber data, instrumen, dan jadwal)
 Ujicoba Penilaian (try-out)
 Melaksanakan teknik dan prosedur penilaian di luar sampel penilaian
 Tujuannya untuk melihat keterandalan alat penilaian dan melatih tenaga penilai
 Hasil ujicoba dijadikan dasar perbaikan dan penyempurnaan

TAHAP PELAKSANAAN
 Pengumpulan data lapangan
 Penyusunan dan pengolahan data
 Penyajian/deskripsi data
 Menentukan judgement, rekomendasi, implikasi
 Menyusun laporan

Sumber:
Sumber data berasal dari persentasinya
Drs. Asep Herry Hernawan, M.Pd dalam persentasi Evaluasi Kurikulum
Dian Andayani, S.Pd dalam persentasi Evaluasi Kurikulum
HANSISWANY KAMARGA dalam persentasi Evaluasi Kurikulum
Serta sumberlain yang mendukung postingan ini.

Minggu, 09 November 2008

Model Pengembangan Kurikulum

Posted at 06.52 by thegudangupil
MODEL RALPH TYLER
• Menentukan Tujuan Pendidikan
• Menentukan Proses Pembelajaran
• Menentukan Organisasi Kurikulum
• Menentukan Evaluasi Pembelajaran

MODEL ADMINISTRATIVE
Sering disebut Top Down atau Line staff procedure
• Membuat keputusan atau kebijakan berkaitan dengan pengembangan kurikulum
• Kurikulum ini tidak mengacu pada perubahan kebutuhan masyarakat, tetapi cenderung memenuhi pola pikir pihak atasan (birolrat) dalam pendidikan.
Model ini merupakan model pengembangan kurikulum yang paling lama dan paling banyak digunakan. Gagasan pengembangan kurikulum datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, membentuk suatu Komisi atau Tim Pengarah pengembangan kurikulum. Anggotanya, terdiri dari pejabat di bawahnya, para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. Tugas tim ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Selanjutnya administrator membentuk Tim Kerja terdiri dari para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu dari perguruan tinggi, dan guru-guru senior, yang bertugas menyusun kurikulum yang sesungguhnya yang lebih operasional menjabarkan konsep-konsep dan kebijakan dasar yang telah digariskan oleh Tim pengarah, seperti merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional, memilih sekuens materi, memilih strategi pembelajaran dan evaluasi, serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum bagi guru-guru. Setelah Tim Kerja selesai melaksanakan tugasnya, hasilnya dikaji ulang oleh Tim Pengarah serta para ahli lain yang berwenang atau pejabat yang kompeten.
Setelah mendapatkan beberapa penyempurnaan dan dinilai telah cukup baik, administrator pemberi tugas menetapkan berlakunya kurikulum tersebut. Karena datangnya dari atas, maka model ini disebut juga model Top – Down. Dalam pelaksanaannya, diperlukan monitoring, pengawasan dan bimbingan. Setelah berjalan beberapa saat perlu dilakukan evaluasi.

MODEL GRASS ROOT
• Bersifat demokratis
• Guru harus memiliki kemampuan yang profesional
• Guru harus terlibat penuh dalam perbaikan kurikulum
• Keterlibatan langsung dalam perumusan tujuan, pemilihan bahan dan penentuan evaluasi
• Muncul konsensus tujuan, prinsip-prinsip maupun rencana-rencana diantara para guru.
Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Model pengembangan kurikulum yang pertama, digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan/kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Pengembangan kurikulum yang bersifat grass roots, mungkin hanya berlaku untuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu, tetapi memungkinkan pula dapat digunakan untuk seluruh bidang studi pada sekolah atau daerah lain. Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralistik dengan model grass rootsnya, memungkinkan terjadinya kompetisi dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.

MODEL MILLER – SELLER
• Klarifikasi Orientasi Kurikulum
• Pengembangan Tujuan
• Identifikasi Model Mengajar
• Implementasi

MODEL TABA'S (INVERTED MODEL)
• Mengadakan unit-unit eksperimen bersama dengan guru
• Menguji unit eksperimen
• Mengadakan revisi dan konsolidasi
• Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum (Developing a framework)
• Implementasi dan Desiminasi

Sumber :
Nana Syaodih Sukmadinata. 1997. Pengembangan Kurikulum; Teori dan Praktek. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.
Tim Pengembang MKDK Kurikulum dan Pembelajaran.2002. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan UPI.
Dan Sumber Lainya yang mendukung kelengkapan dalam postingan ini

Kamis, 06 November 2008

Model Konsep Kurikulum

Posted at 23.11 by thegudangupil

Klik 2x di gambar untuk meperbesar!
Kurikulum Subjek Akademis
Sumber : Pendidikan Klasik (filsafat perenialisme, esensialisme)
• Orientasi masa lalu
• Asumsi : ilmu, nilai, budaya telah solid
• Tugas pendidikan memelihara & mewariskan ilmu, nilai budaya
• Guru adalah ekspert & model

Karakteristik kurikulum :
• kurikulum menekankan isi/materi ajaran
• Isi kurikulum berasal dari disiplin ilmu (solid-sistematis)
• Peranan guru sangat dominan
• Penyajian : ekspositori & inkuir

Pendekatan Dalam Perkembangan Kurikulum Subjek Akademis
• Pendekatan berdasarkan struktur pengetahuan
• Pendekatan bersifat integratif (integrated curriculum)
o Tema yang membentuk kesatuan (unifying theme)
o Menyatukan beberapa disiplin ilmu (contoh social studies)
o Menyatukan berbagai metode belajar
• Pendekatan fundamentalis
o Mata pelajaran membaca menulis berhitung
o Mata pelajaran lain dipelajari tanpa dihubungkan dengan kebutuhan praktis

Kurikulum Humanistik
Sumber : Pendidikan Pribadi (filsafat eksistensialisme)
• Orientasi ke masa sekarang
• Asumsi : anak punya potensi
• Pendidikan ibarat bertani
• Guru adalah psikolog, bidan, motivator, fasilitator

Karakteristik kurikulum :
• Siswa adalah subjek, punya peran utama
• Isi/bahan sesuai minat/kebutuhan siswa
• Menekankan keutuhan pribadi
• Penyampaian : discovery, inquiry, penekanan masalah

Kurikulum Teknologis
Sumber : Pendidikan Teknologis (filsafat realisme)
• Orientasi ke masa sekarang dan yang akan datang
• Menekankan kompetensi
• Kompetensi diuraikan menjadi perilaku yang dapat diamati
• Peranan guru tidak dominan (dapat diganti alat-alat teknologi)
• Pendidikan bersifat ilmiah (science, experimental, terukur0
• Pendidikan – sistem

Karakteristik kurikulum :
• Tujuan dirinci menjadi objektif
• Menekankan isi (uraian kompetensi)
• Disain pengajar disusun sistemik (menggunakan analisis approach)
• Isi disajikan dalam media tulis & elektronik
• Evaluasi menggunakan tes objektif

Kurikulum Rekonstruksi Sosial
Sumber : Pendidikan Interaksional (filsafat pragmatisme)
• Orientasi ke masa lalu dan sekarang
• Asumsi : manusia mahluk sosial
• Menekankan pemecahan problema masyarakat
• Tujuan pendidikan pembentukan masyarakat lebih baik
• Pendidikan adalah kerjasama : interaksi guru-siswa-siswa

Karakteristik kurikulum :
• Tujuan pemecahan masalah masyarakat
• Isi kurikulum ; problema dalam masyarakat
• Metode mengajar kooperatif / gotong royong / kerja kelompok
• Guru & siswa belajar bersama

Dalam persentasi HANSISWANY KAMARGA dengan judul LANDASAN DAN PRINSIP PENGEMBANGAN KRIKULUM

Selasa, 14 Oktober 2008

Komponen dan Prinsip Pengembangan Kurikulum

Posted at 17.43 by thegudangupil
Kurikulum memiliki lima komponen utama, yaitu : (1) tujuan; (2) isi/materi; (3) metode atau strategi pencapain tujuan pembelajaran; (4) organisasi kurikulum dan (5) evaluasi.
Tujuan
Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut:
• Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
• Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
• Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
• Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler; yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di setiap sekolah atau satuan pendidikan.
Tujuan pembelajaran merupakan tujuan pendidikan yang lebih operasional, yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran dari setiap mata pelajaran. Pada tingkat operasional ini, tujuan pendidikan dirumuskan lebih bersifat spesifik dan lebih menggambarkan tentang “what will the student be able to do as result of the teaching that he was unable to do before” (Rowntree dalam Nana Syaodih Sukmadinata, 1997). Tujuan pendidikan tingkat operasional ini lebih menggambarkan perubahan perilaku spesifik apa yang hendak dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran. Merujuk pada pemikiran Bloom, maka perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran pada tingkat operasional ini akan menentukan terhadap keberhasilan tujuan pendidikan pada tingkat berikutnya. Terlepas dari rangkaian tujuan di atas bahwa perumusan tujuan kurikulum sangat terkait erat dengan filsafat yang melandasinya. Jika kurikulum yang dikembangkan menggunakan dasar filsafat klasik (perenialisme, essensialisme, eksistensialisme) sebagai pijakan utamanya maka tujuan kurikulum lebih banyak diarahkan pada pencapaian penguasaan materi dan cenderung menekankan pada upaya pengembangan aspek intelektual atau aspek kognitif. Apabila kurikulum yang dikembangkan menggunakan filsafat progresivisme sebagai pijakan utamanya, maka tujuan pendidikan lebih diarahkan pada proses pengembangan dan aktualisasi diri peserta didik dan lebih berorientasi pada upaya pengembangan aspek afektif. Pengembangan kurikulum dengan menggunakan filsafat rekonsktruktivisme sebagai dasar utamanya, maka tujuan pendidikan banyak diarahkan pada upaya pemecahan masalah sosial yang krusial dan kemampuan bekerja sama. Sementara kurikulum yang dikembangkan dengan menggunakan dasar filosofi teknologi pendidikan dan teori pendidikan teknologis, maka tujuan pendidikan lebih diarahkan pada pencapaian kompetensi.
Isi / Materi Pembelajaran
Dalam menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar tidak lepas dari filsafat dan teori pendidikan dikembangkan. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa pengembangan kurikulum yang didasari filsafat klasik (perenialisme, essensialisme, eksistensialisme) penguasaan materi pembelajaran menjadi hal yang utama. Dalam hal ini, materi pembelajaran disusun secara logis dan sistematis, dalam bentuk :
• Teori; seperangkat konstruk atau konsep, definisi atau preposisi yang saling berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan – hubungan antara variabel-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.
• Konsep; suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususan-kekhususan, merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.
• Generalisasi; kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari analisis, pendapat atau pembuktian dalam penelitian.
• Prinsip; yaitu ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara beberapa konsep.
• Prosedur; yaitu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus dilakukan peserta didik.
• Fakta; sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting, terdiri dari terminologi, orang dan tempat serta kejadian.
• Istilah, kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi.
• Contoh/ilustrasi, yaitu hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas suatu uraian atau pendapat.
• Definisi:yaitu penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata dalam garis besarnya.
• Preposisi, yaitu cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.
Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat progresivisme lebih memperhatikan tentang kebutuhan, minat, dan kehidupan peserta didik. Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat konstruktivisme, materi pembelajaran dikemas sedemikian rupa dalam bentuk tema-tema dan topik-topik yang diangkat dari masalah-masalah sosial yang krusial, misalnya tentang ekonomi, sosial bahkan tentang alam. Materi pembelajaran yang berlandaskan pada teknologi pendidikan banyak diambil dari disiplin ilmu, tetapi telah diramu sedemikian rupa dan diambil hal-hal yang esensialnya saja untuk mendukung penguasaan suatu kompetensi.
Terlepas dari filsafat yang mendasari pengembangan materi, Nana Syaodih Sukamadinata (1997) mengetengahkan tentang sekuens susunan materi pembelajaran, yaitu :
• Sekuens kronologis; susunan materi pembelajaran yang mengandung urutan waktu.
• Sekuens kausal; susunan materi pembelajaran yang mengandung hubungan sebab-akibat.
• Sekuens struktural; susunan materi pembelajaran yang mengandung struktur materi.
• Sekuens logis dan psikologis; sekuensi logis merupakan susunan materi pembelajaran dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan, dari yang sederhana menuju kepada yang kompleks. Sedangkan sekuens psikologis sebaliknya dari keseluruhan menuju bagian-bagian, dan dari yang kompleks menuju yang sederhana. Menurut sekuens logis materi pembelajaran disusun dari nyata ke abstrak, dari benda ke teori, dari fungsi ke struktur, dari masalah bagaimana ke masalah mengapa.
• Sekuens spiral ; susunan materi pembelajaran yang dipusatkan pada topik atau bahan tertentu yang populer dan sederhana, kemudian dikembangkan, diperdalam dan diperluas dengan bahan yang lebih kompleks.
• Sekuens rangkaian ke belakang; dalam sekuens ini mengajar dimulai dengan langkah akhir dan mundur kebelakang. Contoh pemecahan masalah yang bersifat ilmiah, meliputi 5 langkah sebagai berikut : (a) pembatasan masalah; (b) penyusunan hipotesis; (c) pengumpulan data; (d) pengujian hipotesis; dan (e) interpretasi hasil tes.
• Dalam mengajarnya, guru memulai dengan langkah (a) sampai (d), dan peserta didik diminta untuk membuat interprestasi hasilnya (e). Pada kasempatan lain guru menyajikan data tentang masalah lain dari langkah (a) sampai (c) dan peserta didik diminta untuk mengadakan pengetesan hipotesis (d) dan seterusnya.
• Sekuens berdasarkan hierarki belajar; prosedur pembelajaran dimulai menganalisis tujuan-tujuan yang ingin dicapai, kemudian dicari suatu hierarki urutan materi pembelajaran untuk mencapai tujuan atau kompetensi tersebut. Hierarki tersebut menggambarkan urutan perilaku apa yang mula-mula harus dikuasai peserta didik, berturut-berturut sampai dengan perilaku terakhir.
Metode atau strategi pencapain tujuan
Metode dan teknik pembelajaran yang digunakan pada umumnya bersifat penyajian (ekspositorik) secara massal, seperti ceramah atau seminar. Selain itu, pembelajaran cenderung lebih bersifat tekstual. Strategi pembelajaran yang berorientasi pada guru tersebut menurut kalangan progresivisme, yang seharusnya aktif dalam suatu proses pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik mendapat dukungan dari kalangan rekonstruktivisme yang menekankan pentingnya proses pembelajaran melalui dinamika kelompok. Pembelajaran cenderung bersifat kontekstual, metode dan teknik pembelajaran yang digunakan tidak lagi dalam bentuk penyajian dari guru tetapi lebih bersifat individual, langsung, dan memanfaatkan proses dinamika kelompok (kooperatif), seperti : pembelajaran moduler, obeservasi, simulasi atau role playing, diskusi, dan sejenisnya.
Organisasi Kurikulum
Setidaknya terdapat enam ragam pengorganisasian kurikulum, yaitu:
• Mata pelajaran terpisah (isolated subject); kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kemampuan peserta didik, semua materi diberikan sama
• Mata pelajaran berkorelasi; korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu.
• Bidang studi (broad field); yaitu organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama dan dikorelasikan (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran. Salah satu mata pelajaran dapat dijadikan “core subject”, dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan dengan core tersebut.
• Program yang berpusat pada anak (child centered), yaitu program kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan pada mata pelajaran.
• Inti Masalah (core program), yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah, dimana masalah-masalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu, dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. Mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi pisau analisisnya diberikan secara terintegrasi.
• Ecletic Program, yaitu suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik.
Evaluasi
Dalam pengertian terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun juga relevansi, efisiensi, kelaikan (feasibility) program. Evaluasi kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Hasil – hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya. (disarikan dari Nana Syaodih Sukmadinata, 1997) Selanjutnya, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan tiga pendekatan dalam evaluasi kurikulum, yaitu : (1) pendekatan penelitian (analisis komparatif); (2) pendekatan obyektif; dan (3) pendekatan campuran multivariasi.

Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok :
• prinsip - prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas;
• prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.

Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
• Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
• Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.
• Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
• Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
• Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :
• Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
• Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
• Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
• Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
• Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
• Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
• Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Prinsip-Prinsip Khusus Pengembangan Kurikulum
• Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan
 Ketentuan/kebijakan pemerintah
 Survey persepsi orang tua
 Survey pandangan para ahli
 Pengalaman negara lain
 penelitian
• Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
 Penjabaran tujuan ke dalam bentuk pengalaman belajar yang diharapkan
 Isi meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan
 Disusun berdasarkan urutan logis dan sistematis
• Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar
 Keselarasan pemilihan metode
 Memperhatikan perbedaan individual
 Pencapaian aspek kognitif, afektif, skills
• Prinsip berkenaan dengan pemilihan media
 Ketersediaan alat yang sesuai dengan situasi
 Pengorganisasian alat dan bahan
 Pengintegrasian ke dalam proses
• Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian
 Kesesuaian dengan isi dan tingkat perkembangan siswa
 Waktu
 Administrasi penilaian


*Catatan kuliah dan beberapa sumber asli dari Internet yang sudah lupa alamat URL aslinya Kalau ada yang tahu silahkan beri tahu saya

Selasa, 16 September 2008

Landasan Pengembangan Kurikulum

Posted at 07.39 by thegudangupil
Landasan Pengembangan Kurikulum
Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu: (1) filosofis; (2) psikologis; (3) sosial-budaya; dan (4) ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi sebelum uraian tentang landasan pengembangan kurikulum dari Nana Syaodih Sukmadinata kita lihat faktor-faktor pengembangan kurikulum .
FILOSOFI merupakan konseptual dan ideal :
 Sasaran pendidikan (tujuannya?)
 Proses pendidikan (bagaimana caranya?)
 Pendidik-siswa (siapa peserta didik, siapa pendidik?)
PSIKOLOGIS rencana belajar untuk pengalaman
 Perkembangan siswa
 Karakteristik siswa
 Metode belajar-mengajar
SOSIAL BUDAYA dalam hal ini masyarakat (siswa, keluarga, masyarakat umum) merupakan sesuatu yang nyata
 Perubahan tata nilai
 Perubahan tuntutan kehidupan
 Perubahan tuntutan kerja
ILMU DAN TEKNOLOGI arahnya bahwa pendidikan tidak hanya untuk sekarang tetapi untuk masa depan
 Teori baru
 Teknologi baru
Menurut Hansiswany Kamarga dalam Landasan Dan Prinsip Pengembangan Kurikulum




Landasan Filosofis
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum berlandaskan pada aliran-aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan.
Hubungan Antara Filsafat Dengan Filsafat Pendidikan
• Donald Butler (1957), filsafat memberikan arah & metodologi terhadap praktek pendidikan; praktek pendidikan memberikan bahan bagi pertimbangan filsafat
• Brubacher (1950), mengemukakan 4 pandangan tentang hubungan ini :
• Filsafat merupakan dasar utama dalam filsafat pendidikan
• Filsafat merupakan bunga, bukan akar pendidikan
• Filsafat pendidikan berdiri sendiri sebagai disiplin yang mungkin memberi keuntungan dari kontak dengan filsafat, tetapi kontak tersebut tidak penting
• Filsafat dan teori pendidikan menjadi satu
• John Dewey, filsafat dan filsafat pendidikan adalah sama, seperti pendidikan sama dengan kehidupan

Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat, kaitannya dengan pengembangan kurikulum.
• Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
• Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.
• Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu ?
• Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
• Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional.
Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan.

Landasan Psikologis
Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2) psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.
Masih berkenaan dengan landasan psikologis, Ella Yulaelawati memaparkan teori-teori psikologi yang mendasari Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dengan mengutip pemikiran Spencer, Ella Yulaelawati mengemukakan pengertian kompetensi bahwa kompetensi merupakan “karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan hubungan kausal dengan referensi kriteria yang efektif dan atau penampilan yang terbaik dalam pekerjaan pada suatu situasi“.
Selanjutnya, dikemukakan pula tentang 5 tipe kompetensi, yaitu :
o motif; sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berfikir secara konsisten atau keinginan untuk melakukan suatu aksi.
o bawaan; yaitu karakteristik fisik yang merespons secara konsisten berbagai situasi atau informasi.
o konsep diri; yaitu tingkah laku, nilai atau image seseorang;
o pengetahuan; yaitu informasi khusus yang dimiliki seseorang; dan
o keterampilan; yaitu kemampuan melakukan tugas secara fisik maupun mental.
Keterampilan dan pengetahuan cenderung lebih tampak pada permukaan ciri-ciri seseorang, sedangkan konsep diri, bawaan dan motif lebih tersembunyi dan lebih mendalam serta merupakan pusat kepribadian seseorang. Kompetensi permukaan (pengetahuan dan keterampilan) lebih mudah dikembangkan. Pelatihan merupakan hal tepat untuk menjamin kemampuan ini. Sebaliknya, kompetensi bawaan dan motif jauh lebih sulit untuk dikenali dan dikembangkan.

Landasan Sosial-Budaya
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan. Dengan pendidikan, kita mengharapkan melalui pendidikan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat. Karena setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.

Israel Scheffer (Nana Syaodih Sukamdinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang.

Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan terus semakin berkembang. Dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian karena berbagai penemuan teknologi baru terus berkembang. Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya arahnya bersifat tidak hanya untuk sekarang tetapi untuk masa depan dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan bersama, kepnetingan sendiri dan kelangsungan hidup manusia.

*Catatan kuliah dan beberapa sumber asli dari Internet yang sudah lupa alamat URL aslinya Kalau ada yang tahu silahkan beri tahu saya